Drama Korea – Start Up Ep 1 Part 1, Daftar lengkapnya di goresan pena yang ini. Akhirnya kecantol juga sama drama Suzy. Biasanya mah sy gk pernah suka akting dia. Tapi disini, kok aktingnya cantik ya? Episode pertama ini masih pengenalan para tokoh ya guys… Happy reading. Semoga suka dengan goresan pena kedua sy.


Adegan pertama dari Han Ji Pyeong yang sedang berolahraga. Dia berlari di atas treadmill nya.
Usai berolahraga, lelaki itu menanyakan jadwalnya pada Yeong Sil.
Yeong Sil yang tak lain yaitu robot menginformasikan agenda Ji Pyeong hari itu.
“Ada agenda beri kuliah relai ihwal perusahaan rintisan pukul 14.00. Lokasinya di Sand Box.”
Ji Pyeong berlangsung menuju kulkasnya dan menanyakan cuaca hari itu pada Yeong Sil.
Yeong Sil : Inilah ramalan peruntunganmu hari ini.

Ji Pyeong mengulangi pertanyaannya soal cuaca sambil mengambil air minum di kulkas.
Yeong Sil : Hari ini, Dewa Takdir akan meniupkan angin sepoi-sepot ke hidupmu yang tenang.
Ji Pyeong kesal, bicara apa dia? Bukan. Aku mau tahu cuaca hari ini. Cuaca!
Yeong Sil : Kau akan berjumpa seseorang dari masa lalumu di kawasan yang tak terduga.
Kesal dengan jawaban Yeong Sil, Ji Pyeong pun pergi.

Kita beralih ke Seo Dal Mi yang berlangsung masuk ke toilet.
Tapi Dal Mi di toilet cuma mau mengecat sepatunya pakai spidol bertinta hitam.
Usai mengecat sepatunya dengan spidol hitam, Dal Mi pun keluar dan beranjak pergi.

Dal Mi berlangsung menuju stasiun. Sembari berjalan, Dal Mi menilik ponselnya dan menerima foto modern dari Won In Jae dengan tagar #BaruMendarat #WaktuBermakna.

In Jae sendiri mengambil beberapa selfie di bandara.
Usai mengambil beberapa selfie, ia berlangsung dengan tampang cuek keluar bandara.

Seorang lelaki menghampirinya.
“Kita eksklusif ke kantor?” tanya lelaki itu.
In Jae tak menjawab dan terus berjalan.

Pria itu bergegas mengambil koper In Jae di belakang, kemudian tergesa-gesa menyusul In Jae.
Narasi Young Sil terdengar.
Young Sil : Meski ia tiba seumpama angin sepoi-sepoi di animo semi, nantinya ia sanggup meningkat menjadi badai animo cuek yang hendak merubah drastis hidupmu yang tenang.


Ji Pyeong pergi salah satu kendaraan beroda empat mewahnya.
Di perjalanan, ia mengontak Park Dong Chun.
Ji Pyeong : Pengeras bunyi kecerdasan buatan, Jang Yeong Sil, ada dalam tinjauan investasi kita, kan?
Pak Park mengiyakan dan mengatakan, Yeong Sil milik Jiphyeonjeon Tech.
Ji Pyeong : Keluarkan. Itu bodoh. Tak paham perintahku.
Pak Park : Benarkah? Dia punya pemberian multibahasa yang hebat.
Ji Pyeong : Apa? Hebat? Tidak sama sekali. Aku tanya cuaca, namun dijawab ramalan peruntungan. Mereka menghancurkan nama baik leluhur. Kenapa nama Jang Yeong Sil dipakai untuk barang macam itu? Keluarkan dari daftar.
Ji Pyeong memutus panggilannya.

Pak Park : Halo? Pak Han? Han Ji Pyeong!
Pak Park kesal. Ia ingin tau apa yang Yeong Sil katakan hingga Ji Pyeong semarah itu.

Dal Mi ternyata tiba ke Sandbox.


Dua dari tiga pembicara yaitu In Jae dan Ji Pyeong.
Seorang lelaki berdiri. Aku ada pertanyaan untukmu, Nona Won In Jae.
In Jae : Siapa namamu?
Pria itu menyampaikan namanya. Kim Yong San.
“Apa kamu sudah menyaksikan komentar di postingan tentangmu?”
Semua eksklusif heboh. Rekan Yong San menegur Yong San atas pertanyaan Yong San.
In Jae : Tentu saja sudah. Sepertinya umurku akan panjang lantaran sering diumpat.
Semua tertawa.


Yong San : Banyak komentar bilang kamu sukses lantaran anak konglomerat dan itu tak dijumlah lantaran kamu tak mulai dari Sand Box. Bagaimana pendapatmu?
In Jae : Aku tak mulai dari Sand Box?

In Jae kemudian menoleh pada Bu Yoon yang duduk di sebelahnya. Dia mengajukan pertanyaan pada Bu Yoon asal muasal nama Sand Box.
Bu Yoon : Jika kamu lihat kawasan bermain anak-anak, ada pasir untuk melindungi mereka mudah-mudahan tak luka waktu terjatuh, ‘kan? Aku terinspirasi dari itu. Jadi, artinya jangan terluka sekalipun perusahaanmu jatuh.

In Jae : Maka itu, orang yang butuh proteksi yang mesti di sini. Jika anak dari konglomerat sepertiku ambil alih di sini, bukankah saya sungguh tak tahu diri? Lalu satu lagi. Aku tak peduli pada komentar seumpama itu. Seseorang berkata bahwa ketidakpedulian yaitu balas dendam terhadap orang yang tak penting. Maka itu, saya tak peduli lagi lantaran mau balas dendam. Apa sudah jelas?

Yong San eksklusif kicep.
Dia duduk dan mendengus lantaran dikatai orang tak penting.


In Jae kembali mengajukan pertanyaan pada audience, apa ada lagi pertanyaan.
In Jae menunjuk lelaki yang berkemeja kotak-kotak.
Pria itu berdiri. Namanya Lee Seong Hun. Dia mengaku sedang merencanakan suatu bisnis.


Tapi belum sempat bertanya, Dal Mi tiba-tiba saja bangun dan merebut mic dari tangan lelaki itu.
Dal Mi : Halo. Namaku Seo Dal Mi.
In Jae terdiam sembari memandang Dal Mi.

Sementara Ji Pyeong terkejut, Seo Dal Mi?
Bu Yoon tanya ke Ji Pyeong, apa Ji Pyeong kenal Dal Mi.
Ji Pyeong bilang tidak.


In Jae memerintahkan Dal Mi bicara.
Dal Mi : Aku tahu kamu sudah menghasilkan banyak keputusan hebat. Tapi katakanlah dengan jujur. Kau pernah buat keputusan egois, Nona Seo In Jae?

Yong San dan rekannya terkejut mendengar Dal Mi manggil In Jae Seo In Jae.
“Bukankah namanya Won In Jae?”
“Nama keluarganya diubah?
“Mungkin ia membencinya.”
“Apa mereka kenal?”

In Jae menjawab pertanyaan Dal Mi dengan tenang.
In Jae : Pernah. Aku juga manusia. Aku menghasilkan keputusan materialistis lantaran sudah putus asa. Tapi Nona Seo Dal Mi, namaku Won In Jae.

In Jae dan Dal Mi saling menatap. Dal Mi memandang In Jae dengan tatapan kecewa dan tatapan In Jae pada Dal Mi tatapan yang tegas.

Kita dibawa ke 15 tahun lalu.
Dal Mi duduk di lantai, memakai kaus kakinya sambil bersenandung kecil.
In Jae yang duduk di meja, minta Dal Mi berhenti bermain DDR.
In Jae : Kaus kakimu akan berlubang semua.
Dal Mi menyaksikan kaus kakinya yang memang bolong. Lalu ia membuka laci kawasan tidur mereka dan mengambil kaus kaki yang baru.


Dal Mi : Eonni, ayo main berdua denganku. Lebih seru jikalau main berdua.
In Jae yang sedang mengelap sesuatu pun bilang kalau ia lebih senang main Pump daripada DDR.
Dal Mi : Benarkah? Kalau begitu, mulai hari ini saya juga Pump.
Mereka kemudian mendengar bunyi kericuhan diluar.

Diluar, orang bau tanah mereka sedang bertengkar.
“Kenapa kamu sering sekali mengundurkan diri dari kantor!” murka Cha A Hyun.
Seo Chung Myung berupaya menjelaskan. Dia bilang ia punya pemikiran cantik untuk berbisnis.
Tapi Bu Cha tidak mau mendengar. Dia bilang, Pak Seo akan menghasilkan mereka semua mati kelaparan.


Dal Mi mendekati kakaknya. Dia bilang, bukankah mereka mesti menghentikan orang bau tanah mereka?
Tapi In Jae yang kesal, tak peduli dan memasang earphone nya.


Diluar, Pak Seo dan Bu Cha masih ribut.
Pak Seo : Aku melakukan pekerjaan selama 20 tahun di perusahaan orang lain. Sekarang, biarkan saya hidup melakukan hal yang saya mau.
Bu Cha : Kau tak akan sanggup apa-apa jikalau keluar dari perusahaan. Hanya akan ada dua pilihan. Mati kelaparan atau kedinginan. Aku tak akan biarkan kedua putriku mati kelaparan.
Dal Mi mengintip.

Bu Cha mengambil surat cerai dan minta Pak Seo menandatanganinya. Dia bilang, Pak Seo mesti menceraikannya dahulu jikalau mau berhenti bekerja.

In Jae mulai kesal. Dia membanting kotak musik yang dilapnya tadi ke atas meja.

Pak Seo berupaya membujuk Bu Cha.
Pak Seo : A Hyun-ah.
Tapi Bu Cha kian murka dan kekeuh mau cerai.


Dal Mi dan In Jae makan corn dog di kedai neneknya.
Dal Mi memerintahkan sang nenek membujuk ayahnya.
Dal Mi : Ayah sungguh patuh pada nenek. Dia akan mendengar jikalau nenek bicara.
Tapi neneknya bilang, Pak Seo tidak akan menikahi Bu Cha jikalau patuh padanya.
Nenek memperlihatkan Dal Mi susu.
Dal Mi : Nenek, apa kamu tak sanggup tinggal bareng kami?
Nenek : Tidak. Mereka akan lebih sering berantem jikalau ada aku.


Nenek kemudian ingat sesuatu. Dia mengeluarkan surat dan memberikannya pada In Jae.
Nenek : In Jae-ya, mereka mau saya sampaikan ini jikalau kamu tiba ke sini. Harus kuapakan?
Mendengar itu, siswa seumuran In Jae yang bangun di belakang mereka bareng teman-temannya protes.
“Nenek, kenapa diberikan sekarang?”
“Lantas, kapan? Besok? Masih protes walaupun kubantu.”

Dal Mi eksklusif bilang iri pada kakaknya.
In Jae memerintahkan neneknya mencampakkan surat itu. Dia bilang, jikalau mereka menuntut ilmu segigih siswa itu mengejarnya, maka mereka akan sanggup nobel.
Sontak lah, siswa yang naksir In Jae eksklusif ditertawakan teman-temannya.
Mereka kemudian pergi. Kedua teman dekat siswa yang cintanya ditolak In Jae komitmen akan mengenalkan siswa itu pada gadis lain.


Mereka pergi, terlihatlah Ji Pyeong. Ternyata Ji Pyeong sejak tadi bangun di belakang siswa yang naksir In Jae.
Ji Pyeong menyaksikan amplopnya yang berisi segepok uang.
Nenek yang menyaksikan Ji Pyeong tanya Ji Pyeng mau makan apa.
Ji Pyeong eksklusif bilang ia tak lapar dan tergesa-gesa pergi sambil menyimpan uangnya di dalam tas besarnya.


In Jae menyaksikan ayahnya menyebrang jalan. Begitu menyaksikan sang ayah, In Jae eksklusif pamit ke sekolah sama neneknya dan menawan Dal Mi pergi.

In Jae dan Dal Mi bergegas memburu bus yang dinaiki sang ayah.
Dal Mi yang tak tahu mereka sedang memburu ayah, ngajak In Jae naik bus selanjutnya saja.

In Jae bilang tak bisa. Mereka mesti memburu ayah.
Dal Mi tanya kenapa mereka mesti mengikuti ayah.
In Jae : Ibu minta cerai jikalau ayah berhenti kerja. Ayo hentikan dia. Kau mau kita hidup terpisah?
Dal Mi : Tidak.

Mereka mengikuti ayah mereka hingga ke kawasan ayah mereka bekerja.
Pak Seo melakukan pekerjaan di suatu konstruksi dan pedagangan milik Ilcheung.
In Jae dan Dal Mi berkeliaran di kantor mencari ayah mereka.


Saat menyaksikan ayah mereka keluar dari suatu ruangan, In Jae dan Dal Mi eksklusif ngumpet. Mereka masuk ke satu ruangan dan sembunyi disana.
In Jae dan Dal Mi melihat-lihat ruangan yang mereka masuki. Sepertinya itu ruangan milik pemilik perusahaan.
Lalu mereka mendengar ribut-ribut diluar.
Keduanya mengintip dari jendela dan menyaksikan pemilik perusahaan sedang menyemprot semua karyawan tergolong ayah mereka.
“Kalian kugaji puluhan juta won pertahun dengan uangku. Tapi kalian mengkhianatiku? Siapa yang beri kalian uang? Aku atau pemilik toko?”
Pemilik perusahaan hendak menghantam salah satu staf namun dihalangi Pak Seo.


Pak Seo minta bos nya menyimak dahulu klarifikasi mereka. Tapi Pak Seo malah dipukuli dan ditendang.
Pak Seo juga dituduh bersekongkol dengan pemilik toko dan menghasilkan hasil pemasaran palsu.
Dal Mi dan In Jae yang menyaksikan ayahnya diperlakukan seumpama itu sontak menangis.
Dal Mi bahkan marah, appa…
In Jae eksklusif menutup ekspresi adiknya.
Sang ayah masih dipukuli hingga terkapar di lantai.

Malamnya, In Jae dan Dal Mi menceritakan hal itu pada ibu mereka. Mereka membujuk ibu mereka mudah-mudahan mengijinkan ayah mereka membuka usaha sendiri.
Tapi Bu Cha malah membahas uang.
Bu Cha : Kalian bilang ia akan sanggup duit damai. Berapa? Sepuluh juta won?
Dal Mi marah, eomma! Apa duit penting sekarang?
Bu Cha : Ya! Itu sungguh penting bagi ibu! Uang tetap yang paling utama. Bagaimana ongkos sekolah kalian jikalau ayah berhenti kerja? In Jae-ya, kamu mesti berhenti les. Kalian mau menuntut ilmu sendiri di rumah lantaran tak les? Tak apa jikalau tak sanggup ikut rekreasi sekolah? Ini demi masa depan kalian. Meski dipukuli, mesti tetap cari uang. Itulah kepala keluarga.

Pak Seo ternyata sudah bangun di belakang mereka. Dia terpukul mendengar ucapan istrinya, bahkan hingga menjatuhkan kemasan plastik berisi ayam goreng yang dibawanya saking terpukulnya.
Pak Seo yang sudah lelah, akibatnya mengajak istrinya bercerai.

In Jae dan Dal Mi tak setuju.
Bu Cha baiklah bercerai dan memerintahkan kedua putrinya menegaskan mau ikut siapa.


In Jae dan Dal Mi saling berpandangan. Mereka tak rela berpisah.
Flashback end…


Dal Mi tanya, apa In Jae meratapi keputusan itu?
In Jae : Menyesal? Tentu saja. Aku cuma manusia. Tiba-tiba saya penasaran. Apa orang dengan pilihan yang berlainan denganku hidup dengan baik dan tak menyesal? Karena semua pilihan akan dibarengi rasa penyesalan.
Dal Mi : Tak semua begitu. Terima kasih atas jawaban jujurmu, Seo In… tidak. Maksudku, Won In Jae-ssi.

Ji Pyeong terus memandang Dal Mi. Dia teringat kata-kata Young Sil.
Young Sil : Kau akan berjumpa seseorang dari masa lalumu di kawasan yang tak terduga.
15 tahun lalu…

Ji Pyeong bangun di depan kedai neneknya Dal Mi dan In Jae.
Di tasnya, ada papan bertuliskan juara pertama persaingan investasi virtual.


Ji Pyeong menyaksikan corn dog di steling nenek Dal Mi.
Nenek Dal Mi menyaksikan Ji Pyeong.
“Kau mau makan apa?”
“Aku tak lapar.” jawab Ji Pyeong, kemudian tergesa-gesa pergi.

Ditemani biro real estate, Ji Pyeong menyaksikan suatu rumah.
“Ruangan ini bekas ruangan pemanas. Jadi, seumpama sauna waktu animo dingin. Tak akan mati kedinginan.” ucap si agen.
“Tapi panas dikala animo panas.” jawab Ji Pyeong.


Ji Pyeong kemudian tanya ongkos depositnya.
Agen bilang dua juta won dan sewa nya 150 ribu won.
Agen kemudian tanya, berapa yang Ji Pyeong sanggup dari panti asuhan.
Ji Pyeong bilang dua juta won.
“Setelah mengeluarkan duit deposit, kamu tidak mempunyai duit untuk bayar sewa.” jawab agen.
“Atau untuk makan.” sambung Ji Pyeong.

Si biro mengajak Ji Pyeong keluar. Pria itu kemudian menyaksikan papan di tas Ji Pyeong.
“Omong-omong, tulisannya “Han Ji Pyeong”. Siapa itu? Itu kau?”
“Ya.”
“Anak muda sepertimu punya talenta begini?” ucapnya, kemudian menyaksikan angka di papan kemenangan Ji Pyeong.

“Berapa ini? Satu, dua, tiga…” lelaki menjumlah angka nol nya. “Seratus juta won. Kau sanggup bayar sewa rumah per tahun.”
Ji Pyeong bilang itu duit dunia maya.
Dan benar saja, ada goresan pena duit dunia maya di papan itu.

Agen kemudian menyarankan mudah-mudahan Ji Pyeong berinvestasi sungguhan, alih-alih melakukan simulasi seumpama itu. Dia yakin, Ji Pyeong sanggup kaya dengan itu lantaran Ji Pyeong berbakat.
Ji Pyeong : Aku belum 19 tahun. Tak sanggup buka rekening.
“Kenapa tak bisa? Anakku pun bisa. Dengan orang tua….”
Ji Pyeong sewot, saya tidak mempunyai orang tua!


Ji Pyeong kemudian pergi.
Agen mengoceh lagi.
“Kudengar anak muda bahkan berbelanja kesengsaraan.”
“Kalau begitu, belilah sengsaraku. Akan kujual murah.” jawabnya kesal.

Ji Pyeong berlangsung dan berhenti di depan Restoran Mi Seonju.
Dia ngiler menyaksikan orang-orang yang sedang makan.

Perhatian Ji Pyeong kemudian teralih pada siaran TV di dalam restoran. Siaran TV memperlihatkan Nam Do San yang menjadi juara pertama termuda olimpiade matematika.
Do San mendapatkan kado didampingi ayah dan ibunya.


Ji Pyeong menyaksikan papan persaingan simulasi investasinya. Dia kemudian membuangnya.
Tapi petir menggelegar. Hujan deras turun tak usang kemudian. Ji Pyeong balik lagi mengambil papannya untuk dijadikan payung.

Ji Pyeong yang tidak mempunyai tujuan, masih berkeliaran di jalanan hingga malam.
Dia yang sedang berlari di bawah guyuran hujan, menyaksikan selebaran yang ditempel di tiang listrik soal rumah tanya ongkos deposit. Harga sewa rumah itu 200 ribu won.


Ji Pyeong mau mencopot selebaran itu namun tiba-tiba saja terdengar bunyi perempuan yang bilang itu penipuan.
Ji Pyeong menoleh dan terkejut menyaksikan sosok berjas hujan di depannya. Sosok berjas itu neneknya Dal Mi.
“Sudah niscaya jikalau tanpa deposit dan sewanya murah. Biaya pemeliharaannya niscaya 500.000 won.” ucap nenek.


Nenek kemudian tanya apa Ji Pyeong tidak mempunyai rumah?
Ji Pyeong bilang punya.
“Tidur di sini sementara jikalau tak ada. Tokoku tutup pukul 20.00, dan buka pukul 10.00.”
Ji Pyeong marah. Dia berkeras punya kawasan tinggal.
“Di lantai ada ganjal listrik juga. Jika dinyalakan akan sungguh hangat.”
“Apa kamu tuli? Aku tak perlu itu!”

Nenek kemudian celingukan. Setelah itu ia berbisik kalau ada sangkar burung di pohon sakura tak jauh dari kawasan mereka berdiri.
“Aku akan taruh kuncinya di situ.”
Nenek kemudian pergi.

Ji Pyeong menghela nafas. Dia tidak mempunyai pilihan selain mendapatkan proposal nenek.
Di dalam, Ji Pyeong juga menerima dua tusuk corn dog. Ji Pyeong yang kelaparan, eksklusif melahapnya.


Setelah perutnya kenyang, ia meminum susu dan celingukan melihat-lihat kedai makanan milik nenek.
Lalu Ji Pyeong menyaksikan suatu kaleng yang sarat dengan uang.

Paginya, nenek keluar dari rumah. Dia menguap lebar, kemudian mengambil susu dari dalam kantong yang tergantung di pagarnya.
Saat mau kembali ke dalam rumah, nenek teringat uangnya.
Nenek kemudian meyakinkan dirinya kalau Ji Pyeong niscaya tak ke restorannya lantaran Ji Pyeong bilang punya rumah.
Tapi hati nenek tetap tak tenang.
“Tapi di mana? Sepertinya tak ada. Tapi baguslah kalau ia ke sana. Dia niscaya lebih butuh duit itu. Aku sanggup cari lagi.”

Tapi kemudian nenek bergegas lari ke restorannya. Dia bilang ia sulit payah menghimpun duit itu.
Saat menerima uangnya masih utuh, ia eksklusif minta maaf pada Tuhan lantaran sudah berprasangka buruk pada orang lain.


Suara Ji Pyeong mengagetkan nenek.
Ji Pyeong : Aku nyaris menenteng kabur duit itu.
Nenek yang terkesiap, hingga terduduk di lantai.


Ji Pyeong mengambil tasnya dan menyarankan nenek untuk membuka rekening.
Nenek : Hei anak baik, kamu tak bayar duit makan?
Ji Pyeong : Aku?

Ji Pyeong menemani nenek bank. Tapi nenek yang tak memahami apa-apa soal rekening, akibatnya memerintahkan Ji Pyeong menulis formulir pembukaan rekening untuknya.

Tak cuma itu, nenek juga memerintahkan Ji Pyeong mengelola tabungannya.
Ji Pyeong : Kenapa aku? Aku mesti pergi.
Nenek : Aku sanggup memberimu makan tiga kali sehari. Cepat pegang. Tanganku sakit.


Nenek memperlihatkan buku tabungannya serta stempelnya pada Ji Pyeong.
Ji Pyeong : Kau tak takut kepadaku?
Nenek : Kau baik. Kenapa mesti takut?
Ji Pyeong : Aku tidak baik. Aku tahu sandi tabunganmu dan kawasan kunci tokomu. Bagaimana jikalau saya berbuat jahat kepadamu?
Nenek : Mau bagaimana lagi? Aku mesti terima bahwa saya salah menganggap orang.
Ji Pyeong terdiam. Nenek berlangsung duluan.


Ji Pyeong menyaksikan papan iklan soal investasi dan sekuritas Damoa.
Lalu ia ingat nasehat si biro real estate.

Ji Pyeong mengundang nenek dan mengajak nenek menghasilkan satu buku simpanan lagi. Tapi nenek malah mempercepat larinya sambil senyam-senyum.
Ji Pyeong memburu nenek.
Ji Pyeong : Nenek! Tunggu!

Ji Pyeong duduk di rumahnya, kedai makanan nenek.
Ia membuka hadiahnya. Sebuah laptop. Hadiahnya selaku juara pertama suatu kompetisi.


Besoknya, Ji Pyeong ke perpustakaan. Dia menyalakan laptop barunya dan mulai mendaftar di sekuritas Damoa.
Ji Pyeong memakai rekening nenek untuk mendaftar.
Setelah akunnya sukses terdaftar, Ji Pyeong menawan napas lega.


Sekarang, Ji Pyeong berlangsung di belakang Dal Mi sambil membaca buku.
Dal Mi yang merasa Ji Pyeong mengikutinya, meminta Ji Pyeong berhenti mengikutinya lantaran ia sedang sedih.
Dal Mi kemudian lari.
Ji Pyeong heran sendiri. Kapan saya mengikutinya?


Dal Mi lari memeluk neneknya yang sedang menyapu jalanan di depan kedainya.
Tangis Dal Mi pecah.
Dal Mi bilang kini ia sendirian lantaran In Jae menegaskan pergi dengan ibu mereka.
Nenek Choi tercengang mendengar In Jae dan Bu Cha pergi.
Dal Mi kembali memeluk neneknya.
“Tidak apa-apa. Kau akan baik-baik saja. Kau punya aku.”

Ji Pyeong yang juga menuju kedai makanan Nenek Choi, menyaksikan Dal Mi memeluk nenek. Ji Pyeong gres tahu Dal Mi cucunya nenek.

Malamnya, Ji Pyeong duduk bareng nenek. Ji Pyeong yang sedang menulis, menyaksikan nenek melamun.
Ji Pyeong : Ada apa?
Nenek Choi menyaksikan goresan pena Ji Pyeong.
Nenek Choi : Ternyata tulisanmu bagus, Ji Pyeong. Kau lihat cucuku tadi, kan? Namanya Dal Mi.
Ji Pyeong : Namanya Dal Mi? Namanya sekampungan wajahnya.
Nenek Choi memberi Ji Pyeong kertas surat.

Nenek Choi : Tulislah surat untuknya. Katakan kamu mau berteman dengannya sejak lama. Tulis surat seumpama anak seumuran kalian.
Ji Pyeong : Kenapa mesti begitu?
Nenek Choi : Dia cuma punya kakaknya selaku teman. Tapi kini mereka terpisah. Jadi, saya mau memberinya teman dekat meski cuma melalui tulisan. Aku tak sanggup tulis lantaran ia tahu tulisanku. Kau saja yang tulis.
Ji Pyeong : Kenapa saya yang mesti melakukan itu?
Nenek Choi : Karena kamu anak baik.
Ji Pyeong : Astaga. Jangan panggil saya begitu. Kau salah menilaiku.


Nenek Choi merengek melalui tatapannya.
Ji Pyeong menghela nafas dan terpaksa menuruti undangan nenek.

Nenek Choi : Bagaimana jikalau teman dekat perempuan?
Ji Pyeong : Siapa pun yang lihat, niscaya tahu ini goresan pena lelaki.
Nenek Choi : Kalau begitu, teman dekat lelaki saja? Untuk permulaan suratnya…


Nenek Choi mendiktekan isi suratnya.
“Teruntuk Dal Mi.”
Ji Pyeong bilang itu sungguh antik dan Dal Mi niscaya eksklusif tahu itu kerjaan neneknya.
Ji Pyeong : Begini saja. Halo, Dal Mi. Namaku….

Ji Pyeong tanya ke nenek, siapa namanya.
Nenek Choi malah memerintahkan Ji Pyeong yang memikirkannya.
“Nama lelaki yang tampaknya pintar, baik hati, dan beruntung. Pakai namamu saja?”
“Jangan. Aku tak mau.”

Ji Pyeong celingukan dan ia menyaksikan tumpukan koran. Ia mengambil koran paling atas. Kebetulan, ada isu Do San mendapatkan penghargaan di halaman paling awal.
Ji Pyeong : Bagaimana dengan dia? Pintar, baik hati, dan terlihat beruntung.
Nenek setuju. Ditambah tampang Do San juga cakep.

Ji Pyeong menulis lagi.
“Namaku, Nam Do San. Aku ingin berteman denganmu. Itu sebabnya saya mengambil pena dan menulis surat ini.”

Nenek nyeletuk lagi, namun itu pensil.
Ji Pyeong memandang galak nenek.
Nenek Choi : Aku cuma bercanda.

Ji Pyeong lanjut lagi menulis.
Nenek bilang lagi itu pensil, bukan pena.
Ji Pyeong memandang sebal nenek. Nenek tertawa.


Ji Pyeong kemudian tanya apa planning nenek itu akan berhasil.
Ji Pyeong : Tentang cucumu. Orang tuanya bercerai, dan ia pisah dengan abang kesayangannya. Apa surat ini akan sanggup menghiburnya?
Nenek Choi terdiam. Dia takut rencananya menghibur Dal Mi gagal.
Bersambung ke part 2…