Drama Korea – Sinopsis Start Up Episode 3 Part 4, Untuk membaca Episode sebelumnya cek di sini. Sedangkan Episode daftar lengkap selengkapnya pada goresan pena yang ini.

Di kantornya, Ji Pyeong mengusut daftar investasi dan menerima nama Yeong Sil masih di sana.
Ji Pyeong : Dong Cheon-ah, bukankah kita sudah sepakat untuk mengeluarkan Yeong Sil?
Dong Cheon : Aku sudah coba itu.

Dong Cheon kemudian mendekati Ji Pyeong.
Dong Cheon : Terkadang ia benar. Terkadang tidak.
Ji Pyeong : Harus senantiasa akurat.
Dong Cheon : Dia menarik, walaupun kadang salah. Seperti sobat udik di sekolah yang mau berupaya maju. Teman yang disenangi orang-orang. Yeong Sil menyerupai itu.

Ji Pyeong : Lantas, kamu mau apa? Mau masukkan itu dalam daftar investasi?
Dong Cheon : Jika kamu mengizinkannya.

Ponsel Ji Pyeong berbunyi. Pesan masuk dari Do San.
Do San : Kau bilang saya mesti lapor kalau pesan Dal Mi masuk. Jadi, saya kirimkan mudah-mudahan kamu bisa periksa.

Do San meneruskan pesan Dal Mi ke Ji Pyeong.
Dal Mi : Kau tahu tumbuhan yang menjinjing keberuntungan, ‘kan? Aku punya satu yang bagus. Ini tepat untuk kantormu. Aku menuju ke alamat yang ada pada kartu nama.


Ji Pyeong mendengus kesal.
Ji Pyeong : Kenapa ia seenaknya?
Dong Cheon salah paham. Dikiranya maksud ucapan Ji Pyeong untuknya padahal untuk Dal Mi.
Dong Cheon : Kapan saya begitu? Aku akan lakukan kalau kamu izinkan.
Ji Pyeong : Aku pergi dulu.


Dong Cheon balik ke mejanya dan mengaku akan mengeluarkan Yeong Sil.
Ji Pyeong berhenti melangkah. Dia memerintahkan Dong Cheon tetap memasukkan Yeong Sil. Ji Pyeong pergi.
Dong Cheon : Kenapa dia? Membingungkan. Terlihat kokoh padahal lemah.
Dong Cheon tertawa sendiri.


Trio San lagi bersihin kantor gegara Dal Mi mau datang.
Ponsel Do San berbunyi. Telepon dari Ji Pyeong.
Sambil memakai seatbeltnya, Ji Pyeong tanya Dal Mi menuju kemana. Do San bilang menuju kantornya, Samsan Tech. Ji Pyeong pun menghantam setirnya. Dia kesal.
Ji Pyeong : Dal Mi orang yang aneh. Memang ia bola rugby, melompat seenaknya.
Do San ngasih tahu Ji Pyeong kalau ia lagi bersihin kantornya. Ji Pyeong bilang gak bakal ngaruh meski dibersihkan.
Ji Pyeong muter otaknya, biar Dal Mi gak tahu kenyataannya.

Ji Pyeong : Begini saja…
Ji Pyeong melajukan mobilnya.

Trio San pribadi mindahin barang-barang mereka ke apartemen mewahnya Mas Ji Pyeong. Mas Ji Pyeong berniat menyulap apartemennya jadi kantor Samsan. Chul San gak ngerti kenapa mereka mesti melaksanakan itu.
Mas Ji Pyeong nyuruh mereka bergegas. Chul San bilang, mereka ada di bulat setan.

Yong San tanya, apa mereka bakal dibayar. Chul San bilang gak tahu.

Ji Pyeong juga nyingkirin barang-barangnya dari rak dan memerintahkan Do San memajang papan Samsan di rak nya.


Ji Pyeong juga minjemin stelan jasnya buat trio San.
Ji Pyeong : Cepat pakai.
Ji Pyeong pergi. Chul San natap sengit Ji Pyeong.

Tepat sehabis mereka ganti baju, Dal Mi datang.
Do San : Kau sudah datang?
Dal Mi tersenyum memandang Do San.
Do San mengajak Dal Mi masuk.

Dal Mi : Astaga, luas sekali. Ini kantormu ya?
Dal Mi gak menyaksikan Ji Pyeong yang duduk di sofa.
Dal Mi : Pasti sulit membersihkan wilayah ini.
Ji Pyeong : Ternyata ia tahu.

Dal Mi menyaksikan Yong San dan Chul San.
Do San mengenalkan Yong San dan Chul San pada Dal Mi. Dia bilang, mereka juga pendiri Samsan.
Dal Mi : Do San, Yong San, Chul San. Kalian saudara? Namanya…
Yong San : Tidak. Kami satu klub di universitas.

Chul San : Do San, Yong San, Chul San. Tiga San jadi Samsan Tech. Unik, kan?
Mereka tertawa.

Ji Pyeong tertawa kesal.
Ji Pyeong : Sudah kuduga. Nama asal-asalan.

Ji Pyeong membuka kulkas disampingnya.
Sementara Dal Mi tanya, sejak kapan Do San mengawali Samsan.
Do San : Kami mulai tiga tahun lalu. Kurang lebih sekitar dua tahun.

Chul San berbisik ke Yong San.
Chul San : Dia dari kementerian? Seperti mau inspeksi.


Dal Mi menoleh ke belakang dan terkejut menyaksikan Ji Pyeong.
Dal Mi : Kenapa Pak Han ada di sini?
Ji Pyeong berdiri dari duduknya sambil ngedumel pelan.
Ji Pyeong : Aku yang mau tanya itu.
Ji Pyeong kemudian tanya argumentasi Dal Mi datang.

Dal Mi gres ingat maksudnya tiba buat ngasih kado ke Do San.
Dal Mi bilang, itu tumbuhan keberuntungan, bisa memunculkan Do San kaya.
Do San : Entahlah, apa tumbuhan bisa menjadikanmu kaya…


Do San memandang Ji Pyeong. Ji Pyeong nyuruh Do San mengucapkan terima kasih ke Dal Mi.
Do San nurut.


Chul San tanya, apa Dal Mi tiba cuma mau ngasih tumbuhan itu.
Dal Mi bilang iya.
Chul San pasang tampang meringis.


Dal Mi juga bilang, ada yang mau ia bicarakan juga ke Do San.
Ji Pyeong pun pribadi memandang Dal Mi.

Do San tanya, Dal Mi mau bicara apa.
Dal Mi : Sejujurnya, kupikir saya akan kalah dari kakakku. Tapi sehabis berjumpa dia, kelihatannya saya bisa menang. Sejak awal, saya lebih elok dari dia. Pacarku juga tak akan kalah dari apa pun. Masalahnya yakni statusku. Jauh lebih rendah darinya. Aku menyalahkan usia dan dunia untuk itu, tetapi ternyata salahku sendiri. Aku menjadi malu. Tak ada jalan keluar.
Do San : Tidak. Aku juga tidak punya jalan keluar.
Dal Mi : Tidak. Kau punya. Kau jalan keluar dari seluruh masalahku. Kau lebih muda dari kakakku, tetapi kompeten. Karena itu, saya mengikuti jejakmu.
Do San : Jejakku?


Dal Mi : Ya. Hari ini saya sudah berhenti.
Ji Pyeong yang lagi minum, pribadi nyemburin air dari mulutnya.


Dal Mi bilang akan mengawali bisnis menyerupai Do San.
Ji Pyeong : Keadaan kian memburuk saja.

In Jae keluar dari rumah mewahnya sambil menjinjing koper.
Dia kemudian menyaksikan ibunya sudah datang.
In Jae : Kenapa ibu disini?
Nyonya Cha : Sudah kuduga. Kemana seketarismu? Kenapa bawa itu sendiri?
In Jae bilang Sang Su sibuk dengan rapat dewan.
Nyonya Cha : Lantas kamu mau kemana?
In Jae : Kau tanya sebab tak tahu? Aku ke Amerika hari ini.

Taksi datang. Nyonya Cha memerintahkan In Jae masuk mobilnya. Dia bilang akan mengirim In Jae.


In Jae masuk kendaraan beroda empat ibunya.
Nyonya Cha : Mau kemana?
In Jae : Kenapa tanya terus? Kau tanya sebab tak tahu?
Nyonya Cha : Ya. Aku tanya sebab tak tahu. Harus kuarahkan ke mana? Bandara Incheon? Atau ke kantormu?
Setelah termangu beberapa saat, In Jae minta dikirim ke kantor.
Nyonya Cha : Bagus. Bersikaplah cerdas. Pergilah ke kantor dan tersenyum. Coba rayu ayahmu. Dengan begitu, perusahaanmu tak akan diambil lelaki udik itu.


Sang Su mimpin rapat. Dia bilang, harusnya In Jae yang mimpin rapat tetapi sebab In Jae mesti ke Amerika ia terpaksa mengambil alih In Jae.
Sang Su juga nunjukin surat kuasa dari In Jae. Pimpinan Won tersenyum memandang Sang Su.

Pimpinan Won minta usulan yang lain.
Pimpinan Won : Dia cocok menjadi CEO, ‘kan?
Yang lain setuju.

Sang Su : Nona Won bertujuan untuk mengundurkan diri dari posisinya untuk konsentrasi membesarkan bisnis di Amerika. Meski kalian niscaya kecewa, tetapi apa kalian baiklah ia mengundurkan diri?
Semua setuju.
Sang Su kemudian bilang sebab semua baiklah maka ia yang mau menjadi pengganti In Jae.

Tepat di saat itu, In Jae datang. Sang Su terkejut In Jae datang. Pimpinan Won juga terkejut.


Pimpinan Won : In Jae-ya, bukankah kamu akan ke Amerika hari ini?
In Jae : Aku mau menyaksikan tontotan menawan ini.


In Jae memandang Sang Su.
In Jae : Jangan takut begitu. Bukankah sebaiknya kamu tak takut apa pun sebab ada orang yang mendukungmu?
Sang Su melirik ayahnya.


In Jae kembali memandang Pimpinan Won.
In Jae : Aku sanggup pelajaran bermanfaat darimu, ayah. Jika mulanya mudah, maka akan gampang hilang. CEO yang tidak punya saham tak lebih baik dari permen karet bekas. Terima kasih sudah berikan pelajaran berharga.
In Jae juga bilang kalau ia takkan ke Amerika.
In Jae : Suruh saja lelaki udik itu mengurusnya.
Pimpinan Won kesal Sang Su nya dikatai bodoh.

Sementara Nyonya Cha terkejut dengan kata-kata In Jae.
In Jae kemudian pergi.


Nyonya Cha menyusul In Jae. Dia memarahi In Jae.
Nyonya Cha : Kau ke sini untuk menghancurkan semuanya?
In Jae bilang iya dan ingin melakukannya sejak dulu. Tapi dahulu ia belum pantas.
In Jae : Aku mesti layak sebelum menghancurkan semua.
Nyonya Cha : Apa maksudmu?
In Jae : Jika kulakukan selagi kaya, orang akan bilang saya tak tahu diri, menyerupai ibu.
Nyonya Cha : Apa?
In Jae : Jadi, saya mencampakkan semuanya. Aku menghancurkan semua sebab terlalu kotor dan buruk.
Nyonya Cha : Lantas, kamu merasa senang? Kau bahagia sehabis lakukan ini?
In Jae : Ya. Sangat bahagia dan puas. Coba lakukan juga. Ibu akan tahu rasanya.

In Jae lantas pergi.
Nyonya Cha : Kau melakukan pekerjaan keras mengembangkannya. Kau senang? Seperti akan terbang?
Tanpa Nyonya Cha sadari, In Jae pergi sambil nangis.
In Jae : Tidak. Aku merasa payah.

In Jae ke salon. Pegawai salon tanya, ia mesti memotong rambut In Jae hingga mana.
In Jae meminta pegawai salon memotong pendek rambut panjangnya.

Dan sekarang, In Jae melajukan mobilnya sendirian. Rambutnya sudah diiris pendek.


In Jae kemudian ke Sand Box.
Dal Mi juga ke sana. Mereka sama2 berdiri di depan gedung Sand Box.

Trio San lagi beres-beres. Karena Dal Mi sudah pergi, mereka pribadi merapikan barang-barang mereka dari apartemen Ji Pyeong.
Ji Pyeong memberi Do San amplop. Do San terkejut dan tanya apa itu.
Ji Pyeong : Janjiku. Dua juta won. Kau sudah menyanggupi permintaanku, walaupun kurang baik.
Chul San pribadi menyambar amplopnya.
Chul San : Kita sanggup duit tunai.
Ji Pyeong kemudian duduk.

Chul San tanya, hingga kapan mereka mesti berbohong begitu.
Ji Pyeong : Sampai hari ini saja. Nenek Dal Mi akan menyampaikan kebenarannya.
Do San kaget. Dia tanya, halmeoni bakal ngomong apa.
Ji Pyeong : Semua wacana surat dan pestanya.


Chul San : Apa? Lantas, kenapa kami mesti ke sini?
Yong San : Benar. Neneknya akan mengaku, kemudian kenapa kami mesti begini?
Ji Pyeong : Maafkan aku. Aku juga sedang menyesalinya.
Ji Pyeong memandang bunga dari Dal Mi.
Do San : Pak Han, apa kita mesti katakan yang bekerjsama pada Dal Mi? Jika bisa bohong hingga akhir, kenapa mesti beritahu dia?
Ji Pyeong : Bagaimana bisa hingga akhir? Berbohong juga ada batasnya.
Chul San baiklah sama Ji Pyeong. Dia bilang kalau mereka meneruskan kebohongan mereka, itu kelewatan dan bisa disebut penipuan.

Do San menjelaskan, mereka udah melaksanakan dua kebohongan.
Do San : Pertama, yang menulis surat 15 tahun kemudian yakni kau, bukan aku. Kedua, kita buat seakan saya CEO hebat. Untuk yang pertama, tak ada problem kalau kamu tutup mulut. Bisa rahasiakan hingga simpulan soal siapa yang tulis surat itu, ‘kan?
Ji Pyeong : Aku mau terus merahasiakan itu. Menulis surat begitu yakni sejarah burukku.

Do San : Lantas, problem yang kedua. Ini bisa terselesaikan kalau kami masuk Sand Box.
Ji Pyeong kesal.
Ji Pyeong : Saat ini kamu menghinaku?
Do San : Tidak.
Ji Pyeong : Kalian sudah berupaya keras. Mari jangan berjumpa lagi.

Tapi Do San kekeuh mau masuk Sand Box.
Do San : Kau belum lihat demo kami. Teknologi kami…
Ji Pyeong tambah kesal.
Ji Pyeong : Pasti bagus! Kau memberitahukan teknologimu di anjuran bisnis. Namun, bisa apa? Itu tak buat penanam modal tertarik. Apa model bisnismu? Dari mana pendapatan berkelanjutannya? Tak ada yang terperinci dari itu. Mau les atau belajar, hal menyerupai ini tak berkhasiat untuk Sand Box.
Ji Pyeong bilang, ini soal potensi. Harus ada bukti walaupun secuil.

Ji Pyeong liat Chul San nangis.
Ji Pyeong : Astaga, kalau terus begini kalian akan bangkrut. Berhenti buang duit keluarga kalian. Carilah pekerjaan lain.

Ji Pyeong nyuruh Chul San berhenti nangis. Atau kalau masih mau nangis, nangis lah diluar.
Yong San pun ikut kesal.
Yong San : Kenapa kamu menangis!
Chul San bilang ia nangis sebab mereka berhasil.

Mendengar itu, Do San pribadi mendekati Chul San. Chul San nunjukin pengumuman di ponselnya, kalau mereka juara 1 CODA.

Chul San pun pribadi menampilkan itu pada Ji Pyeong.
Chul San bilang Samsan bukan cuma juara 1 tetapi menang telak.
Ji Pyeong : CODA? Kalian ikut persaingan itu?

Do San ngambil ponsel Chul San dan nunjukin pengumumannya ke Ji Pyeong.
Do San : Apa ini cukup? Secuil ini?
Ji Pyeong pun diam.

Sand Box dipenuhi orang-orang yang ingin merealisasikan mimpi mereka.
Satu per satu dari mereka menuliskan cita-cita mereka di kertas kecil dan menempelkannya di wilayah yang sudah disediakan.
Ada yang menulis ingin meluncurkan perusahaan rintisan sebab ingin menjadi CEO yang menginspirasi.
Dal Mi menulis, ingin naik lift ke lantai atas.

In Jae menulis, tidak ingin menjadi permen karet bekas.

Do San menulis, ingin menghasilkan salah paham menjadi kenyataan.

Malamnya, Ji Pyeong ke Sand Box di saat Sand Box sudah sepi.
Ji Pyeong membaca tulisan-tulisan para peserta.
Tak usang kemudian, Ji Pyeong menulis kalau ia mau mengeluarkan duit utang.

Bu Yoon tiba-tiba datang. Melihat Ji Pyeong, Bu Yoon pikir Ji Pyeong mau mengawali bisnis.
Ji Pyeong : Tidak. Bukan begitu.
Bu Yoon : Lantas apa ada penerima yang membuatmu tertarik?
Ji Pyeong : Apa saya boleh menjadi mentor Program Keanggotaan Sand Box angkatan 12 ini?
Bu Yoon : Ada apa denganmu? Kau tak pernah mau waktu saya suruh.

Ji Pyeong : Ada perusahaan yang menarik.
Bu Yoon : Benarkah? Tim yang mana?
Ji Pyeong : Lebih baik kamu tak tahu.
Bu Yoon : Kenapa?
Ji Pyeong : Sepertinya mereka akan gugur. Kuharap begitu.
Bu Yoon : Jika gugur, mereka tak akan butuh mentor.
Ji Pyeong : Aku cuma berjaga-jaga. Siapa tahu mereka lolos.

Ji Pyeong mengajak Bu Yoon pergi.
Bu Yoon tanya lagi perusahaan mana yang menawan perhatian Ji Pyeong.

Kamera menyorot satu satu goresan pena para peserta.
Dari semua tulisan, ada yang menulis ‘balas dendam’.


Trio San dibantu seorang lagi, sedang menghasilkan video rekaman.
Mereka merekam Do San. Seorang lelaki bertugas merekam Do San. Sementara Yong San dan Chul San memegang teks dalam bahasa inggris.
Do San tegang.
Pria yang merekam Do San, minta Do San rileks.
Do San : My name is Nam Do San. CEO of Samsan Tech. It’s a gaji to be a first… saya tak bisa! Apa yang mesti kulakukan?


Chul San : Kita tak ke program penghargaan. Setidaknya mesti kirimkan video. Hei. Cepat buat videonya. Ini semua sebab kau.
Do San : Kenapa aku?
Chul San : Kau tak ingat? Sungguh?
Flashback…

Chul San minta nomor paspor Do San.
Chul San bilang untuk berjaga-jaga saja kalau mereka menang CODA.
Saat Chul San hendak berbelanja tiket pesawat secara online, tiba-tiba saja Do San nyuruh mereka mematikan lampu sebab orang bau tanah Do San datang.
Flashback end…

Chul San : Jika kamu tak buat kericuhan hari itu, ¦kini kita sedang tinggalkan Samudra Pasifik.
Do San : Baiklah. Aku paham. Tapi ini terlalu panjang.
Yong San : Leo Burnett, luar biasa iklan berkata, iklan mesti sederhana, gampang diingat, dan menarik.
Pria yang merekam tak menyangka Yong San tahu Leo Burnett. Dia bilang, perkataan itu motonya.
Chul San : Kalau begitu, tiga kalimat kokoh saja. Kami yakni masa depan. Kami butuh partner. Kami akan hasilkan banyak uang.”
Semua setuju.


Mereka kembali mengambil rekaman Do San.
Do San : Kami yakni masa depan! Kami butuh partner! Banyak uang!
Selesai.

Yong San dan Chul San heran videonya cuma begitu saja.
“Ya, sesuai papan cerita.” jawab lelaki itu.
“Ada papan cerita?” tanya Chul San bingung.

Do San juga minta diulang.
Pria itu bilang ia bisa mengedit videonya.
“Aku Leo Burnett dari Korea.”
Pria itu juga menampilkan hasil rekamannya tadi.

Yong San dan Chul San ragu dengan kesanggupan lelaki itu.
“Kudengar ia punya tombol perak dari YouTube. Dia juga buat iklan.”
Mereka juga curiga dengan layar hijau yang menjadi latar di saat Do San direkam.


Do San : Cheon Ho-ya, terima kasih. Ini bagus, kan?
Cheon Ho : Astaga, sudah kubilang bagus.
Do San : Tentang biaya, akan kubayar…
Cheon Ho : Tak perlu. Kita sepupu.
Do San : Waktu itu kamu buatkan kartu bisnis secara gratis. Kali ini kubayar.

Cheon Ho : Tak perlu. Panggil saya kalau kamu butuh. Jika perlu edit video, iklan atau pemasaran, Studio Jakdu akan membuatkannya.
Yong San bilang ke Chul San kalau ia gak mau lagi menghubungi Cheon Ho.
Cheon Ho menyediakan kartu namanya ke Yong San dan Chul San.

Cheon Ho : Tapi jangan lupa, sahamku satu persen. Mengerti, ‘kan?
Do San : Cheon Ho-ya. Terima kasih.
Cheon Ho : Tak perlu. Aku akan edit ini dengan bagus.
Do San : Sungguh?
Cheon Ho : Videonya sudah bagus.


Do San memuji Cheon Ho di depan Chul San dan Yong San. Lalu ia bilang pada mereka kalau Cheon Ho abang sepupunya.
Chul San dan Yong San memandang mereka aneh.


Halmeoni masih di kedai. Ji Pyeong kemudian datang.
Halmeoni : Kenapa kamu tiba lagi? Lebih baik berpacaran kalau ada waktu menemuiku.
Ji Pyeong : Kau sudah makan?
Halmeoni : Katakan di sini. Mau bicara apa hingga ajak makan? Omongannya panjang?
Ji Pyeong mengajak halmeoni pergi.

Trio San kembali ke kantor mereka. Do San tanya, apa mereka mesti mengirim videonya?
Do San : Di website CODA ada nama kita selaku juara pertama.
Chul San : Tentu. Semua tahu. Tapi tak bisa berhenti di situ.
Yong San : Benar. Kita mesti beri pesan ke seluruh dunia. “Kami mau menjadi perusahaan global.” “Kami perlu investor.”
Do San : Tapi kita punya Pak Han.

Chul San menyombong. Dia bilang mereka sudah selevel sama Google dan Amazon.
Chul San : Han Ji Pyeong?
Chul San tertawa dan menyebut Ji Pyeong gak selevel sama mereka. *Sombong, gres menang CODA aja dah gitu.
Do San : Tapi menurutku, Pak Han yakni partner terbaik untuk kita.

Yong San tanya, kenapa Do San berpikir Ji Pyeong yang terbaik untuk mereka.
Do San : Menurutku, kita dan Pak Han punya tujuan yang sama.
Chul San gak ngerti, tujuan?


Do San pun mulai menerangkan maksudnya sambil coret2 di papan.
Do San : Anggap kita dan penanam modal dua jaringan saraf, dan kita melatih dua jaringan itu untuk dapatkan keseimbangan. Investor dan kita. Han Ji Pyeong dan Samsan Tech. Keduanya jaringan saraf. Jika kedua jaringan sarafnya berbeda, sulit menerima tujuan, juga sulit dilatih. Namun, bagaimana kalau fungsi objektifnya sama?
Yong San : Hanya perlu pakai salah satu fungsinya.
Chul San : Praktis dikumpulkan, juga dilatih.
Do San : Benar.


Chul San kesal.
Chul San : Karena ini, anak teknik menyerupai kita senantiasa diumpat. “Karena tujuan Han Ji Pyeong dan kita sama, kesannya akan baik.” Ini maksudmu, ‘kan? Kenapa bicaramu berputar-putar?
Yong San : Tapi kenapa tujuan ia dan kita sama?
Do San : Keberhasilan Samsan Tech.
Chul San : Itu tujuan kita, bukan tujuannya?
Do San : Tidak. Tujuan kita sama.


Yong San : Alasannya apa?
Do San : Karena kita mesti sukses mudah-mudahan Dal Mi tak kecewa. Aku tahu Ji Pyeong tak mau mengecewakan Dal Mi, sama sepertiku.
Yong San : Seperti kau?
Do San : Ya.

Ji Pyeong ngajak halmeoni makan di restoran.
Halmeoni : Jangan katakan yang sejujurnya terhadap Dal Mi?
Ji Pyeong : Ya. Sepertinya itu hal mudah. Kau dan saya cuma mesti simpan rahasia, dan buat Do San jadi lelaki hebat.
Halmeoni : Itu yang sulit. Bagaimana bisa buat lelaki jelek menjadi hebat?
Ji Pyeong : Memang sulit. Tapi ada harapan. Dan itu keahlianku.
Halmeoni : Itu sulit. Jangan dilakukan.
Ji Pyeong : Kenapa? Biar saya coba.


Halmeoni pribadi berhenti makan. Dia marah.
Halmeoni : Kenapa kau?
Ji Pyeong : Belakangan ini saya insomnia sebab utang 15 tahun lalu. Itu alasannya.
Halmeoni : Tak masuk akal. Kita gres berjumpa lagi sebulan. Jika sebab itu, harusnya kamu insomnia dari dulu. Kau tidur nyenyak selama 15 tahun. Kenapa tiba-tiba sulit tidur? Sebenarnya kenapa?
Ji Pyeong yang tersudut, ngalahin pembicaraan.


Ji Pyeong : Kenapa kamu mengajukan pertanyaan terus?
Halmeoni : Karena kamu aneh. Kenapa sulit payah menolong orang lain?

Ji Pyeong : Katanya semua menyerupai mimpi. Katanya akan terus ingat hingga tua. Dia pikir itu hadiah. Kau mau ambil lagi darinya? Kau pikir bisa tidur sehabis itu? Aku tak akan bisa.
Halmeoni : Ji Pyeong-ah.
Ji Pyeong : Karena itu, jangan bangunkan dia. Jangan ambil darinya. Biarkan. Aku akan wujudkan Nam Do San yang diimpikan Dal Mi. Sudah, ‘kan?
Halmeoni : Belum.
Ji Pyeong : Apa lagi?

Halmeoni mulai curiga : Jika bukan sebab utang 15 tahun lalu… Tidak. Tak mungkin. Apa alasanmu begini…


Yong San dan Chul San masih gak ngerti kenapa Do San milih Ji Pyeong selaku partner.
Chul San : Han Ji Pyeong begitu sebab punya sejarah dengan Seo Dal Mi.Tapi kenapa kamu begitu?
Do San : Aku?
Chul San : Dia orang asing bagimu. Kenapa kamu peduli ia kecewa atau tidak? Sangat aneh.
Do San : Benar juga. Tapi saya tetap tidak ingin ia kecewa.
Chul San : Kenapa begitu?


Yong San : Do San-ah, apa mungkin kamu menggemari Seo Dal Mi?
Do San termangu dengan pertanyaan Yong San.


Sementara itu, halmeoni juga menanyakan pertanyaan yang serupa ke Ji Pyeong.
Ji Pyeong termangu mendengar pertanyaan halmeoni.

Setelah termangu beberapa saat, Ji Pyeong menyangkal perasaannya ke Dal Mi.
Sedangkan Do San mengaku kalau ia suka Dal Mi.

Sementara Dal Mi yang mereka sukai, malah ketiduran di dingklik sambil mendengkur.
Bersambung…
Epilog :

Keluarga besar Do San, berkumpul di rumah Do San.
Pak Nam tanya ke Cheon Ho, kapan mulainya.
Pak Nam juga memerintahkan keluarganya makan sepuasnya.

Mereka semua berkumpul di depan tivi.
Akhirnya, program yang mereka tunggu2 mulai. Acara penghargaan CODA.
“Tunggu. Jadi, ini persaingan tenar itu?”
Pak Nam mengiyakan.
Pak Nam : Ada yang disebut IA. Bukan flu burung, tetapi kecerdasan buatan.
Pak Nam membagikan postingan wacana program itu.
“Aku tahu. AlphaGo, ‘kan?”

“Geum Jong : Ya benar. Dia bilang ini olimpiade di bidang itu, tetapi saya tak begitu paham.
“Aku iri sekali. Geum Jong-ah, katamu di saat hamil kamu berimajinasi menerima ginseng liar.” Astaga, apa mimpiku soal ubi?”

Wanita yang membahas mimpi Geum Jong kemudian memandang Cheon Ho. Dia ibunya Cheon Ho.
“Aku sesak tiap melihatnya.” ucapnya.
“Kau lahir dari mana?” ayah Cheon Ho ikut2an.
Mereka semua membisu di saat nama pemenang CODA mulai diumumkan.

Trio San juga sedang menonton itu di kantor mereka. Mereka pribadi bersorak di saat nama Samsan diumumkan selaku pemenang.

Pak Nam memerintahkan keluarganya membisu sebab Do San akan bicara.
Tapi ia termangu di saat juri mengatakan, kalau Samsan tak bisa hadir dan cuma mengantarkan video.


Ji Pyeong yang sedang berlari di atas treadmill nya, juga menonton video Do San.
Ji Pyeong hingga jatuh dari treadmill gara2 video absurd Do San.

Sementara seluruh keluarga besar Nam termangu menyaksikan video absurd Do San.
Cheon Ho memandang gembira hasil kreasinya.
Pak Nam kesal dan meminta tivinya dimatikan.

Trio San juga terkejut menyaksikan hasil kreasi Cheon Ho.

Ponsel Do San kemudian berbunyi. Pesan dari Cheon Ho yang melarangnya pulang ke tempat tinggal untuk sementara waktu.
Do San pun nangis.


Di program penghargaan CODA, Do San jadi materi tertawaan gara2 video itu.
Juri CODA dari Korea juga ikut tertawa, tetapi sehabis itu ia bilang ‘mengagumkan’.