Drama Korea – Sinopsis Mr Queen Episode 7, Simak rekap Episode sebelumnya baca di sini. Bagi yang ingin tau daftar lengkapnya ada di goresan pena yang ini.

Raja sedang dalam perjalanan menuju ke ruangan Hwa Jin, Raja gelisah di saat menyaksikan Hong Yeon terburu-buru pergi dengan Tabib Kerajaan.
“Apa yang sedang terjadi?” tanya Raja.
Hong Yeon cuma menangis, “Yang Mulia…”
Raja menyadari ada yang tidak beres dengan Ratu, Raja bergegas lari untuk menemui Ratu.

Di zaman modern, Dokter sukses menyelamatkan Jang Bong Hwan, jantungnya mulai berdetak kembali tetapi Jang Bong Hwan belum sepenuhnya sadar.
Dokter menyampaikan bahwa Jang Bong Hwan dalam kondisi vegetatif. (Vegetatif yaitu kondisi di mana orang memiliki denyut nadi tetapi nyaris tidak bernapas).

Di zaman kerajaan, tabib sedang menyelediki Ratu, “ini bukan denyut nadi orang yang hidup, Ratu dalam kondisi vegetatif”.
“Apa yang mesti saya jalankan untuk menyelamatkannya?” ucap Raja dengan panik.
“lebih baik Ratu di bawa dahulu ke ruangannya” ucap tabib. Raja pun bergegas menenteng Ratu.

Dukun menyarankan ke Ibu Suri Jo untuk meletakkan jimat di erat Ratu, mudah-mudahan roh jahat yang ada di sekeliling Ratu sanggup pergi.
“Kita tidak sanggup melaksanakan hal semacam itu di istana” ucap Dayang Ibu Suri Jo.
Ibu Suri Jo cuma diam, kelihatannya Ibu Suri Jo yakin dengan ucapan dukun.

Tabib melaksanakan akupuntur ke Ratu. Tiba-tiba Ratu terbangun, tetapi tidak usang Ratu pingsan kembali. “Masa kritis Ratu sudah lewat, Ratu sudah kembali bernapas tetapi kita mesti tetap mengawasinya alasannya yaitu sanggup saja Ratu kembali dalam kondisi kritis”.

Dayang Hwa Jin melaporkan bahwa Raja tidak sanggup tiba alasannya yaitu sedang menemani Ratu yang sedang sakit. Hwa Jin cuma sanggup menghela napas kecewa.

Diam-diam Dayang Ibu Suri Jo menguburkan suatu jimat di sekeliling kediaman Ratu.

Raja menemani dan merawat Ratu semalaman. Raja mengenang semua momennya bareng Ratu. “aku harap belum telat untukku sanggup memahamimu, tolong bangun”.

Byeong In masih berupaya menyelediki siapa pemilik cuilan kain itu. Byeong In mendatangi salah satu kasim, kasim menyampaikan bahwa beliau pernah menyaksikan kain itu. “aku pernah menyaksikan Pangeran Yeongpyeong aben sesuatu, saya mengeceknya dan menyaksikan suatu kain, kain itu sungguh menyerupai dengan kain yang Tuan miliki sekarang”.
“Pangeran Yeongpyeong …, mungkinkah Raja ada dibelakangnya?!” gumam Byeong In.

Kim Jwa Geun mengundang Byeong In. “apa terjadi sesuatu?” tanya Byeong In.
“Ratu mengalami kondisi vegetatif”
“Kenapa? Apakah ada yang menyakitinya?” Ucap Byeong In berkaca-kaca.
“Kita akan menunjuk ke Ibu Suri Jo dan Selir Hwa Jin”.

Ibu Suri Jo melanjutkan ritual pengusiran roh jahat, dukun sudah menghasilkan suatu boneka dan menuliskan nama Kim So Yong di suatu kain.
Tepat di saat itu Byeong In datang, kemudian menghentikan ritual tersebut. Ibu Suri Jo murka alasannya yaitu Byeong In seenaknya saja masuk ke ruangannya. Tidak usang kemudian Ibu Suri Agung masuk, Ibu Suri Agung menyindir Ibu Suri Jo yang senantiasa melaksanakan hal bodoh.

Ibu Suri Jo mulai nervous dan takut di saat dukun menyampaikan hal yang sebenarnya. Ibu Suri Jo memohon ampun ke Ibu Suri Agung, “Yang Mulia, tolong ampuni nyawa ku, tolong beri saya peluang untuk menebus dosaku”.
“Bagaimana kau sanggup menebus dosa besarmu!!” ucap Ibu Suri Agung.
Ibu Suri Jo terlihat menimbang-nimbang sesuatu, kemudian menyampaikan hal abnormal yang menghasilkan Ibu Suri Agung bingung. “Anda mesti yakin diri, bahwa Anda sepenuhnya mengontrol Raja !!”.

Ibu Suri Agung memutuskan pergi dari sana. “Apakah Anda merasa terusik dengan ucapan Ibu Suri Jo” ucap Byeong In.
Ibu Suri Agung cuma membisu sambil memandang Byeong In. “aku akan memeriksanya dan menyampaikan kepadamu orang menyerupai apa Raja” lanjut Byeong In.

Byeong In menerobos masuk ke ruangan Ratu. Raja yang sedang berada di sana murka dengan perilaku Byeong In, tetapi Byeong In tidak memperdulikan Raja, ia tetap ingin menenteng Ratu pergi.
Raja murka dan pribadi mengarahkan suatu pedang ke leher Byeong In. “Berhenti!! Itu yaitu perintah kerajaan!! Dia wanitaku, jikalau kau berani menyentuhnya pedang ini akan memotong tenggorokanmu”.
“Aku tidak tahu seberapa besar Anda merawatnya” sahut Byeong In dingin.
“Biar saya yang mengurusnya sendiri” ucap Raja.

Tidak usang kemudian Pangeran Yeongpyeong dan pasukan yang lain datang. “Ketidaksetiaan apa yang kau lakukan, tarik secepatnya pasukanmu!!” ucap Yeongpyeong ke Byeong In.
Byeong In memandang tajam Pangeran Yeongpyeong, Byeong In mengancam Raja jikalau Raja menghasilkan Ratu menderita, beliau niscaya akan membalasnya.
“Bawa tandu kerajaan!!, Ratu akan dipindahkan ke rumahnya” ucap Raja dengan tegas dan lantang. Byeong In menahan amarahnya, kemudian memutuskan pergi dari sana. Ratu pun dibawa pergi memakai tandu dan cuma ditemani oleh Hong Yeon.

Raja bareng Yeongpyeong dan Pengawas Hong berdiskusi mengenai perilaku Byeong In.
“Sepertinya beliau sudah menerima sesuatu, kita mesti secepatnya bertindak” gumam Raja.

Raja menemui Hwa Jin, raja meminta Hwa Jin mudah-mudahan mempertahankan jarak dengan Ibu Suri Jo. Hwa Jin berupaya membela Ibu Suri Jo, “Ibu Suri sulit dipercayai melaksanakan hal menyerupai itu”.

Byeong In mendatangi Ratu, Byeong In mengenang kenangan sebelum Ratu masuk kerajaan, dahulu Ratu terlihat sungguh bahagia.
“Andai saya sanggup kembali ke masa itu, saya semestinya membuatmu menjadi milikku” gumam Byeong In sambil berkaca-kaca. Sebelum pergi Byeong In ingin mencium Ratu, tetapi di saat memandang Ratu beliau melongo sesaat, kemudian mengurungkan niatnya.

Kim Jwa Geun mengingatkan Byeong In untuk tidak bersikap berlebihan, “aku sudah mendengar tragedi tadi malam, walaupun Raja tak punya kekuataan tetapi jikalau kau menekannya menyerupai itu beliau niscaya akan bertindak. Lagi pula, saya tidak memberi perintah itu”
Byeong In berargumentasi bahwa beliau cuma tak mau Ibu Suri Agung cemas oleh alasannya yaitu itu beliau bertindak gegabah.

Ibu Suri Agung dan Kim Jwa Geun kembali berdiskusi mengenai Ratu. Ibu Suri Agung mengeluh alasannya yaitu Ratu terlihat sungguh lemah. “Bagaimana jikalau Selir Jo yang duluan memiliki pangeran, itu akan membuat masalah”.
“Yang Mulia, Jangan khawatir. Aku sudah menyiapkan alternatif. Aku sudah menegaskan dua calon yang lain untuk menjadi Ratu”.
Ibu Suri Agung pun tersenyum senang, “kamu memang kerabat yang sanggup saya andalkan”.

Ratu kesudahannya sadar, Ratu terkejut di saat menyaksikan ruangannya sarat dengan dekorasi yang yang dibikin dari emas, “hah, Kerajaan emas!!”.
Tidak usang kemudian Hong Yeon masuk. Ratu pribadi lega, “aku pikir, saya sudah pindah ke kerajaan lain” gumam Ratu.

Ayah Ratu bergegas masuk di saat mendengar Ratu sudah sadar. Ratu gelisah bagaimana mesti menghadapi ayah Kim So Yong.
“Yang Mulia, ayah sungguh khawatir, ayah sudah menyiapkan ruangan terbaik ini untukmu, apakah menurutmu ini masih kurang?”
“Ruangan ini bahkan sungguh menyilaukan mataku” gumam Ratu dalam hati. Ratu menjajal tersenyum di depan ayahnya.
“ bukan cuma ini, ayah juga sudah menyiapkan banyak hal terbaik yang lain untukmu”

Ratu cuma sanggup menghela napas di saat beliau diperiksa oleh banyak tabib dan didandani, tetapi di saat menyaksikan hasil riasannya Ratu tersenyum senang, “aku merasa menyerupai boneka berbie” gumam Ratu.

Ratu mencium aroma aneh, beliau mendekati suatu buku. “Pasti aroma ini berasal dari buku bau tanah ini”.
Hong Yeon menerangkan bahwa dahulu Ratu sungguh senang membaca.
“Pasti perempuan ini melakukannya cuma untuk mengasyikkan ayahnya” gumam Ratu.

Flashback
Ratu kecil sedang duduk di aula perayaan maut Ibunya sambil memegang suatu buku. Ayah tiba kemudian memeluk Ratu, “So Yong, selamat ulang tahun”.
Flashback end

“Hari ulang tahunku yaitu hari maut ibuku, alasannya yaitu itu saya senantiasa merasa buruk” gumam Ratu. Hong Yeon cuma mengangguk sedih.
“Sebentar, dari mana kenangan itu datang? Kenapa itu sanggup muncul” ucap Ratu dengan kaget.

Raja sedang membaca suatu buku yang berisi mengenai kejahatan orang-orang klan kim yang paling berkuasa, buku itu dibentuk menurut hasil penelitian Raja sendiri. Sepertinya Raja akan secepatnya bertindak.
Narasi : Setiap orang niscaya memiliki rahasia, diam-diam yang disembunyikan di dalam hati, diam-diam itu cuma menanti waktu yang tepat. kita memakai suatu topeng untuk menyembunyikan diam-diam itu.